<$BlogRSDURL$>
|

10/27/2005

Negeri Tanpa Waktu 
Esok aku akan pergi ke negeri tanpa waktu
tanpa cahaya dan gelap malam nyaris sebagai hiasan di atas kepala
negeri yang jauh tanpa kata-kata, tanpa berita

ia telah lama menunggu
menanti kesepakatan pada dunia yang ia khianati
padanya, ia telah bersumpah untuk membendung air mata
dan menjadikan keabadian sebagai titian
jauh dari hiruk pikuk dan kecemasan
tapidi sana waktu tak ada,
entahlah....

tanah patah--okt 2005--ramadhan 17
|

1/14/2005

Aceh 
Aku kini di tanahmu
untuk menanamkan separuh keringat
yang kadang sempurna terbuang

membagikan sedikit duka yang masih tersimpan

lelaplah saja engaku di haribaanNya
Aceh...

Banda Aceh, 14 Januari 2005

|

10/23/2004

Daun Kering 
beranda ini telah lama menjadi teman kita yang akrab
seakrab angin yang bergerak mengusir musim demi musim

kita kadang terlempar bagai dedaunan kering
yang begitu engkau sukai--seperti engkau nyatakan dalam sketsa-sketsa yang kau buat
inilah daun kering
jatuh dan berserakan
tanpa daya

kita tidak ingin menjadikannya sebagai perlambang
sebab keangkuhan lebih gagah jika kita sandang
dan kesedihan tak pernah rela bersanding dengan gita suka

ranting kering turut berguguran sebagai tanda silihnya musim


jimbo, DK Okt 2004

|

6/15/2004

Sebagai Angin 
sebagai angin

sebagai laksa aku ingin bicara kepadamu
seperti angin
mendengung dan mengaum
melewati malam berkerudung kabut
"kenapa kita harus peduli dengan nasib"
sementara ketawa terus membahana saja
dan tangis serasa sayatan api
membara
dan kita terluka
jalani saja, seperti meraba sajak dalam mimpi
siang atau malam hari

"iya toh...."

jogja--juni 2004
|

6/04/2004

Senja Di Jembatan Merah 
Kini aku ingin mengajakmu mengenang masa lalu kita, entahlah begitu tiba-tiba. Seperti sebuah besi berani yang menarik-narik serbuk-serbuk besi yang bercampur aduk dengan pasir, seperti yang sering kita lakukan dahulu. Besi berani yang kita ambil dari speaker radio atau tape yang sudah rusak milik Ayah, yang kita bungkus dengan plastik agar serbuk-serbuk besi itu dapat di ambil dengan mudah, dengan melepaskan bungkusan plastik itu. Lalu serbuk besi itu akan kita kumpulkan, sebab kita yakini jika serbuk itu ditanak bersama air, ia akan mengeras membatu menjadi sebongkah besi. Tapi kita memang bodoh, bahkan kita tak pernah tahu kapan serbuk-serbuk itu menjelma besi batu, toh yang kita tahu bahwa kita senantiasa gembira dan ceria, tak peduli celana dan baju dikotori tanah dan pasir, tak peduli kemudian kita akan mendapat marah Emak, dan tak peduli apakah serbuk besi yang kita kumpulkan apakah benar-benar akan menjadi besi.

Entah mengapa, akhir-akhir ini aku begitu sering mengenangkan masa kecil kita dulu, semacam riutal serupa simponi, yang mengalun lewat angin dan wahyu nasib. Aku di sini, dan engkau entah berada di mana kini.

Seiring waktu yang berlalu yang pasti tak terulang, dan kita tak kuat untuk melawan belenggu nasib, kita yang kadang harus bertemu, dan di lain saat harus berpisah. Kita sama sekali tak menjadikan itu sebagai masalah, untuk hanya mengekalkan ikatan persahabatan, yang kita sendiri tak begitu mengerti apa artinya bahkan.

Jalani saja kisah ini, katamu satu ketika. Dan memang benar seperti itulah kita, berjalan seperti biasa mungkin sangat biasa. Masa lewat begitu cepat laksana kilat yang meskipun tak kita jalani bersama tapi kita tetap seperti dulu jua. Terikat dalam semacam kenangan yang tak hendak kita lepaskan.

Engkau pasti ingat, ketika untuk pertama kali aku merasa mengharuskan diri berpamitan kepadamu. Aku akan pergi ke kota, untuk sekolah. Kataku. Seolah-olah perpisahan yang akan kita lakukan adalah perpisahan yang akan menempuh waktu teramat panjang. Perpisahan yang sama sekali tidak kita inginkan, aku tahu itu dan aku yakin bahwa kau pun saat itu tak ingin berpisah. Matamu terlalu banyak bicara melebihi sejuta bahasa, meski air mata tak sanggup engkau bendung. Menetes, mengalir dan menandai serupa anak sungai di pipimu.

Akhirnya kusaksikan engkau kemudian tertawa, ketika beberapa bulan kemudian lewat kita kembali berjumpa saat libur sekolah. Bukankah engkau telah pamit untuk pergi? Katamu sambil menahan senyum, lebih sebagai ucapan selamat datang. Kita kemudian memang sama-sama tertawa, entah apa yang kita tertawakan, misteri nasib atau menertawakan kita yang tidak berdaya?. Itu lucu bukan.

Dan kala itulah untuk pertama kali aku begitu mengagumi kecantikanmu yang kau biarkan alami. Sebab mana ada yang jual peralatan kosmetik di tempat kita, katamu menyambut pujianku. Kecantikan memang tidak bisa disembunyikan, begitu juga sesuatu yang buruk. Kau yang mengaku diri sebagai gadis desa sederhana adalah kebohongan yang terlalu jujur, semacam pengukuhan akan kecantikanmu.

Kau pasti ingat khan ketika suatu petang aku mengajakmu ke Jembatan Merah, jembatan lama buatan Jepang kala perang. Di sana kita duduk berdua berlama-lama, berdua saja kita. Entah apakah akan ada orang yang menganggap kita kala itu adalah sepasang kekasih. Tapi kita tak peduli. Bagi kita, kata-kata semacam itu tak pernah berarti apa-apa. Sama juga ketika anak-anak kecil yang sedang bermain di sungai Kedurang yang mengalir jernih di bawah jembatan meneriaki kita, "Santingan-santingan-santingan" kata mereka beberapa kali. Dan aku pasti ingat, pipimu bersemu merah semerah delima, entah malu entah bahagia, atau mungkin campuran kedua-duanya.

Mengapa kemudian kita tidak bertanya akan waktu yang pasti berlalu? Sebab kita tak pernah kuasa ketika kemudian harus berpisah satu sama lainnya. Berulang kali aku berpamitan kepadamu, dan yang kusaksikan dari matamu yang semakin lama semakin aku kenali, adalah semacam keikhlasan yang tidak engkau sadari. Aku yakin.

Apakah di antara kita tidak ada rasa? Kenapa kita mempermasalahkan rasa? Tanyamu sebaliknya. Sebab adalah rasa, ketika ia di pujikan hati dan dilisankan oleh tingkah. Lisan yang diratapkan hanyalah penghalang yang menjadikan ia melalui perjalan yang lebih panjang. Satu yang tak bisa aku pahami adalah, kenapa engkau bisa lebih tabah?

Kini di jauh waktu yang lebih maju, ku bawa kembali pikiran ini menuju kenangan-kenangan itu. Ku tuliskan lewat surat, yang pasti tidak akan pernah sampai ke tanganmu. Biarlah, untuk hati yang terikat, apa lagi yang sanggup merentangi mereka? Kecuali kiamat ada dalam kehidupan kita.

jimbo--jogja, 5 Juni 2004


---Jembatan Merah adalah nama buatan penulis untuk sebuah jembatan di sungi Kedurang, Kecamatan Kedurang Bengkulu Selatan. Sungai yang dialirkan dari Bukit Barisan Sumatera bagian Tengah.

---Santingan adalah bahasa Kedurang untuk kata kekasih. Bahasa Kedurang termasuk dalam rumpun bahasa suku Pasma, bahasa ini juga digunakan di Kecaman Padang Guci Bengkulu Selatan, Pagar Alam Sumsel, Lahat, dan Tanjung Sakti beberapa daerah Sumsel yang berbatasan dengan Bengkulu bagian Selatan.
|

5/30/2004

Menjelang Juni 
Dan semuanya seperti tergagap
tiba-tiba hari telah jadi
kita hanya sempat terkejut
tanpa sempat memahami
dan memiliki

hari yang bergerak ke barat bukankah terlalu mustahil untuk dicapai
dengan impian yang tak pernah tepat

debu-debu diterbangkan angin sore
berputar-putar dan hinggap di juni diam dan dingin
dan hari kembali berbuah
menelurkan kecambah-kecambah musim yang berubah ganas
kitakah yang terdera?
atau hanya angin?

Setahun telah berlalu
meningat-ingat tapi tak pernah tuntas terlihat
mengintip lewat lubang mata berair mata
berdiri pongah atau sujudkah kita selama ini?
sambil tetap menatap cerah matahari yang senantiasa berubah
menua
bahkan hujan yang datang di celah-celah angin
begitu tega menelantarkan debu tersisa
tidak ia telan dengan sempurna
dan kejadian seperti waktu yang semua berulang
dengan nama dan ciri khasnya yang baru

di satu saat,
disinilah ketika kita melihat
bahwa wajah semakin keriput menuju renta
dan warna
sesungguhnya tak pernah secerah cahaya
teduh, lingkup dan redup

masjur, 25 Mei 2003--jimbo
|
Gadis di Gubeng 
Aku hanya mampir sekedar berpamit kepadamu
gadis manis bersenyum manis
yang sempat kupergoki
lewat kesemrawutan yang mewarnai siang hari
kebisingan seperti tak sanggup menutupi
wajah rupawanmu
yang menggaung lewat langkah anggunmu

Ingin kupersembahkan seulas senyum
mencoba bertarung melawan ketangguhan agung
yang bersemayam dalam teduh matamu

Gadis manis di stasiun itu
biarkan saja dentang rel
yang berbenturan dengan kereta-keretamu
memberikan kesaksian atas kehadiranmu

Dan aku hanya mampir
menyaksikan kecantikkanmu
Bukankah sang pengelana selalu berlari menuju rumahnya?
sebuah tempat dimana ia tak pernah bisa mencapainya
seperti manusia yang selalu memimpikan mendapat surga

Jimbo--surabaya November 2001
|

5/19/2004

Catatan Tentang Keraguan 
Malam ini aku ingin bercerita kepadamu tentang keraguan. Keraguan yang dihadirkan oleh malam maupun juga siang. Sebagai matahari dan rembulan, yang senantiasa hadir dalam setiap pengembaraan hati manusia.

Malam ini begitu sunyi. Detak-detak jarum jam begitu jelas terdengar, cobalah kau dengarkan. Sementara gemuruh hujan diluar masih menyisahkan rasa miris, senyap sekali.

Desahan nafas kadang terdengar lebih sebagai suara berisik yang sangat mengganggu. Inilah untuk kesekian kalinya aku mendapati rasa ragu. Ragu akan semua yang kini dijalani.

Musyawarah Buku karya Khaled Abou El Fadl yang sore tadi kupinjam dari teman masih dalam genggaman. Menarik membaca buku ini. Selain menceritakan kebesaran Islam dari buku ke buku, bahasa terjemahannya masih menyiratkan keelokan yang mengagumkan. Maka sampailah aku pada Bab "Catatan tentang Keputusan Yang Ditunda".

Pada suatau ketika Khaled, mengisahkan pertemuannya dengan seorang Syekh, yakni Syekh 'Id. Usai sholat zuhur berjamaah di mesjid, Khaled mengemukakan keinginannya untuk berbincang-bincang. Khaled menceritakan kebingungannya tentang beberapa riwayat Nabi yang terlihat aneh.

"Yang saya pelajari hanyalah kehidupan Nabi dan para sahabat, dan saya kerap kewalahan dengan apa yang saya alami. Saya membaca riwayat -riwayat yang ditentang riwayat-riwayat lain; saya membaca riwayat tentang kejadian-kejadian yang tampaknya tidak masuk akal, atau saya membaca bahwa Nabi menyatakan hukum yang luas tentang sesuatu tapi hanya satu atau dua orang yang tampaknya telah mendengarnya. Saya membaca sumber-sumber yang menyatakan bahwa perawi hadis dapat dipercaya dan yang lain menentang penilaian ini. Saya rasa masalah yang saya geluti adalah tentang kredibilitas--bagaiman saya bisa yakin sewaktu saya berhubungan dengan sesuatu yang benar-benar menjelaskan Nabi, dan sewaktu saya berhubungan dengan suatu riwayat atau perawi yang memproyeksikan adanya kelemahan pada Nabi? Saya kira semua ini telah menimbulkan rasa was-was dalam hati saya" Khaled menjelaskan.

Syekh 'Id kemudian menjelaskan dengan merujuk pada sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abdullah ibn Mas'ud ditanya tentang keragu-ragu, dan Nabi bersabda: Tilka mahdh al-iimaan (Itu adalah sifat iman yang sebenarnya). Abu Hurairah juga meriwayatkan bahwa sebagian orang mendatangi Nabi dan menjelaskan bahwa mereka kadang-kadang dicekam rasa ragu-ragu--jenis keraguan yang mereka malu untuk mengakuinya secara terbuka. Nabi sebagaimana diriwayatkan menyatakan 'Dzaaka shariih al-iimaan' (itulah iman yang tepat dan benar). Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang maskud sebenarnya hadis ini.

Riwayat pertama mengindikasikan bahwa keragu-raguan adalah sehat dan baik. Riwayat kedua mungkin mengindikasikan bahwa tidak mengakui keragu-raguan secara terbuka adalah yang sehat dan baik. Atau mungkin, mempunyai keraguan adalah baik, tapi tidak baik mengakuinya secara terbuka? Apakah ada perbedaanya bahwa Ibn Mas'ud masuk Islam sejak awal dan menjadi
Sahabat Nabi yang sangat dekat, sedangkan Abu Hurairah masuk Islam baru belakangan dan bersama Nabi hanya selama empat tahun? Bagaimana cara saya mengevaluasi semua ini?

Hal serupa dapat kita lihat dalam sebuah buku yang sempat menggemparkan ummat Islam karya Salman Rusdie, The Satanic Verses. Namun ada sebagian orang berpendapat bahwa seluruh persoalan yang terkandung didalamnya adalah omong kosong. Dalam kalangan Islam ada seorang tokoh terkenal yang mendukung autentisitas sebuah kejadian, yakni Ibn Taymiyyah.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa dalam riwayat-riwayat Nabi tidak pernah memukul, mengutuk, atau menghina seseorang. AKan tetapi kemudian menemukan riwayat-riwayat yang mengklaim beliau membolehkan laki-laki untuk memukul istri mereka, atau sesuatu yang juga abnormal.

Riwayat-riwayat yang bertentangan ini sebetulnya telah diperingatkan oleh Nabi sebelum meninggal dunia. Beliau mengatakan bahwa setelah kematinnya akan ada banyak riwayat tentangnya, dan banyak diantara riwayat-riwayat itu yang benar-benar karangan belaka. Nabi memerintahkan supaya kita meneliti semua riwayat ini dari sudut pandang AL Quran. Dalam Al Quran, Tuhan menggambarkan Nabi sebagai seorang yang berakhlak mulia (QS 68:4). Tuhan juga menyatakan bahwa Nabi diutus sebagai pembaca rahmat dan kasih sayang kepada umat manusia (QS 21:107), dan mengajarkan kepada kita bahwa Nabi bukan orang yang bersikap keras atau kasar (QS 3:159). Selain itu, kita diberi tahu bahwa Nabi adalah orang yang penuh perhatian, penyayang, dan pengasih (QS 9:128). Seorang muslim tentu tahu bahwa penggambaran ini benar, dan pengetahuan kita tentang kebenarannya mencapai titik kepastian
(bi al-qath'). Orang tentu yakin penjelasan ini benar karena penjelasan ini langsung dari Tuhan. Kita juga melihat dalam sunah Nabi dan kita menemukan banyak sekali riwayat yang menguatkan penilaian Alquran tetang akhlak Nabi. Anas ibn Maalik, sahabat dekatnya, menceritakan bahwa beliau tidak pernah menghina atau menyakiti seseorang. 'Aisyah, istrinya, menceritakan kepada kita bahwa beliau selalu menunaikan kewajiban keluarganya.

Ali dan Ibn Abbas, sahabat dekatnya, mengatakan bahwa beliau adalah orang yang lemah lembut--mecintai anak-anak, penyayang, pemurah dan peka terhadap orang-orang dewasa. Dia tidak suka mengkritik dan mempermalukan orang. Beliau adalah orang yang paling pemaaf dan penyabar, dengan senyum yang menghiasi wajanya.

Nah di tengah-tengah setumpuk riwayat yang menjelaskan seorang manusia yang indah, kita tiba-tiba menemukan sebuah riwayat yang aneh. Riwayat yang aneh ini menyatakan sesuatu tentang beliau yang tidak konsisten dengan pemahaman kita tentang kelakuan Nabi biasanya, maka apa yang harus kita lakukan?

Dalam bahasa Syekh 'Id, ada yang dinamakan dengan menunda keputusan. Ialah menunda untuk melakukan penilaian, baik atau salah, diterima atau ditolak jika sebuah permasalahan itu belum sepenuhnya dipahami. Kasus diatas mencontohkan kondisi Khaled yang belum menemukan titik temu dari kontradiktif yang terkandung dalam riwayat-riwayat tersebut. Hal terbaik
yang mesti dilakukan adalah menunda memutuskan apakah riwayat yang satu yang benar atau yang salah sampai ketika ia menemukan pengetahuan-pengetahun baru yang dapat mendukung ia dalam memberikan pilihan diatas.

Dalam dunia Islam dikenal sebuah sekte yang menamakan diri Murji'ah, yakni sebuah sekte yang percaya bahwa, pada soal-soal tertentu, orang mengambil sikap netral dan menyerahkan kepada Tuhan untuk memecahkan masalah itu di akhirat. Akan tetapi Murji'ah tidak mendorong seseorang untuk memecahkan persoalan-persoalan yang mengkhawatirkan--mereka benar-benar mengabaikannya. Perbedaan dengan menunda keputusan yang dimaksud oleh Syekh 'Id ini adalah untuk keputusan yang sama sekali tidak diketahui, dan wajib bekerja keras untuk melengkapi diri dengan alat-alat yang akan memungkinkan menjadi tahu.

Kisah singkat percakapan Khaled dan Syekh 'Id ini mengajarkan kepada kita untuk tidak mudah dalam memutuskan sesuatu yang akan berakibat kepada umum.

Malam semakin malam, barangkali sebentar lagi mestinya waktu sahur. Aku telah menyelesaikan bacaan bab yang menarik ini. Ada semacam kejemuan mendengar percakapan pendapat dari kedua tokoh ini. Tapi aku juga ingin menceritakan kepadamu, bahwa yang melakukan dialog dalam buku itu, tidak hanya Khaled dan Syekh 'Id. Ada satu orang lagi yakni istri Syekh 'Id.

Bagi saya yang menarik dari adalah ketika ia turut serta menerjunkan diri dalam percakapan itu, walaupun tidak dengan sekuat keduanya. Lihatlah komentarnya berikut ini.

"Kalian, kaum lelaki, melakukan apa yang kalian inginkan. Alat saya adalah hati--saya merasa Nabi dalam tulang belulang saya. Ketika saya membaca sesuatu, saya tahu bila saya bersama Nabi atau iblis."

Hati dan akal memang harus dikembangkan dan dikuatkan, dan mereka harus bekerja sama.

Ketika hati menjadi lemah, maka akal harus datang menolongnya, juga sebaliknya.

Menunda keputusan adalah salah satu ciri dari sifat sabar dan kesabaran adalah ciri-ciri kesalehan dan kerendahan hati.

Semoga Allah memberkati semua ummat yang menanggung keraguan dalam dirinya. Amin.

Powered by Blogger

Comment by Halloscan